Contoh Makalah Makalah Pendidikan Konvergensi

KAPAK Comunity - Contoh Makalah Makalah Pendidikan Konvergensi, Pada kesempatan yang sangat bahagia ini saya selaku anggota KAPAK Comunity akan berbagi Contoh Makalah Makalah Pendidikan Konvergensi, mari kita simak baik-baik.

  

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ...............................................................................................................
DAFTAR ISI ..............................................................................................................................
BAB I PENDAHULUAN .........................................................................................................
Pengertian Pendidikan ....................................................................................................
BAB II PEMBAHASAN ..........................................................................................................
1.2 Aliran Pendidikan Konvergensi ................................................................................
2.2 Pengaruh Pendidikan Konfergensi Terhadap Pendidikan Indonesia .......................
BAB III PENUTUP ...................................................................................................................
Kesimpulan .....................................................................................................................


Segala puji hanya milik Allah. Sholawat dan salam kepada Rasulullah. Berkat limpahan rahmat-Nya penyusun mampu menyelesaikan tugas makalah ini.
Pendidikan sebagai usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat.
Dalam makalah ini kami akan membahas masalah “Pendidikan Dalam Persfektif Konvergensi.”
Semoga makalah ini bermanfaat untuk memberikan kontribusi kepada mahasiswa sekolah tinggi keguruan dan ilmu pengtahuan sebagai bekal pengetahuan di bidang pendidikan.  Dan tentunya makalah ini masih sangat jauh dari sempurna. Untuk itu kepada dosen kami minta masukannya demi perbaikan pembuatan makalah kami di masa yang akan datang.
BAB I
PENDAHULUAN
Pentingnya Pendidikan
Berbicara tentang pendidikan kita semua pasti sudah tahu bahwa betapa pentingnya hal tersebut. Pendidikan,kemampuan,pengetahuan merupakan salah satu modal yang kita miliki untuk hidup di zaman yang serba sulit ini. Mengapa dikatakan demikian? Kita tentu sudah bisa menjawabnya,apa hal pertama yang dilihat bila kita ingin mengajukan surat lamaran perkerjaan?Apa yang kita butuhkan ketika ingin memulai suatu bisnis atau usaha? Tentu saja pendidikan,kemampuan,wawasan dan pengetahuanlah yang kita butuhkan.
Di dalam bangku pendidikan banyak sekali hal yang kita dapatkan. Tetapi entah mengapa banyak sekali warga di Indonesia ini yang tidak mengenyam bangku pendidikan sebagaimana mestinya,khususnya di daerah-daerah terpencil di sekitar wilayah Indonesia ini. Mungkin karena memang mereka mempunyai jalan pikiran yang sempit atau mungkin juga karena otak mereka tidak mampu untuk mengikuti pelajaran di bangku pendidikan tersebut. Jadi faktor ekonomi bukan penyebab utamanya tadi di gambarkan di atas merupakan sedikit pandangan mengenai pentingnya pendidikan bagi kehidupan,pendidikan sebagai modal pegangan hidup kita. Karena pendidikan,pengetahuan.wawasan dan kemampuanlah yang akan membawa kita menuju kesuksesan. Tapi tidak kita pungkiri juga bahwa di Negara ini masih banyak sekali masalah-masalah yang menyangkut dunia pendidikan kita
Kondisi pendidikan kita saat ini begitu menyedihkan. ada banyak hal yang harus dibenahi dalam pendidikan kita ini, mengingat pendidikan adalah investasi masa depan bangsa dan pengaruh dinamis terhadap perkembangan jasmani dan rohani atau kejiwaan anak bangsa kita , dimana mereka dididik agar bisa meneruskan gerak langkah kehidupan bangsa ini agar menjadi bangsa yang maju, berpendidikan dan bermoral. ini tentunya akan menjadi tugas dan tanggung jawab banyak pihak , orang tua, para pendidik (sekolah), masyarakat dan juga pemerintah. kewajiban kita untuk mengembalikan kondisi pendidikan kita ini agar menjadi pendidikan yang terbaik, bermutu serta cerdas dalam IPTEK dan IMTAQ. pendidikan yang bertujuan untuk membentuk generasi muda menjadi manusia haruslah menyangkut unsur-unsur spiritual, moralitas, sosialitas dan rasionalita, tidak hanya menekankan segi pengetahuan saja (kognitif)tetapi harus menekankan segi emosi, rohani dan hidup bersama. begitu juga dengan Ujian Nasional yang pemerintah canangkan sebagai bentuk penilaian terhadap hasil belajar siswa. kegiatan ini hendaknya tidak hanya sekedar menguji akan kemampuan siwa dalam hal lmu pengetahuan, akan tetapi juga menguji akan kemmpuan siswa dalam kerohaniannya. sesuai dengan tujuan dalam UU bahwa peserta didik hendaknya memiliki kekuatan spiritual keagamaan.
Pendidikan akan Dipengaruhi oleh Aliran Pendidi Ketiga hal tersebut dalam kaca mata filsafat pendidikan dipengaruhi oleh berbagai aliran atau mazhab pendidikan yang telah dikenalkan dan dikembangkan oleh para ahli
Kajian tentang berbagai aliran pendidikan tersebut berguna sebagai bahan untuk menambah pengetahuan dan wawasan para tenaga kependidikan. Hal ini sangat penting agar para tenaga kependidikan dapat memahami dan memberikan konstribusi terhadap dinamika pendidikan dalam sebuah kondisi masyarakat.
Filsafat pendidikan adalah studi ihwal tujuan, hakikat dan isi yang ideal dari pendidikan. Pada intinya filsafat pendidikan mempertanyakan sejumlah pertanyaan penting sebagai berikut : pengetahuan apa yang paling berharga, pengetahuan apa yang mesti diajarkan, apa yang seharusnya menjadi tujuan pendidikan, bagaimana manusia belajar, bagaimana sebaiknya hubungan antara guru dan siswa. Untuk menjawab kelima pertanyaan di atas terdapat sejumlah mazhab atau aliran filsafat yang lazim dirujuk dalam pendidikan, yaitu : empiris, nativisme, dan konvergensi. Pendidikan dapat dikatakan sebagai sebuah usaha yang dilakukan secara sadar untuk mengenalkan manusia terhadap realita kehidupannya. Dalam hal tersebut secara jelas bahwa pendidikan yang diberikan harus didasarkan atas landasan pelaksanaan pendidikan, kebutuhan peserta didik serta tujuan yang hendak dicapai lewat proses pendidikan tersebut. Ketiga hal tersebut dalam kaca mata filsafat pendidikan dipengaruhi oleh berbagai aliran atau mazhab pendidikan yang telah dikenalkan dan dikembangkan oleh para ahli.
Walaupun kenyataannya berbagai pemikiran yang kemudian menjadi “mazhab” dalam penyelenggaraan pendidikan dicetuskan beberapa puluh tahun yang lalu, bahkan beberapa ratus tahun yang lalu, namun nampak nyata bahwasanya pemikiran tersebut sangat mempengaruhi penyelenggaraan pendidikan pada masa kini. Pemikiran para ahli tersebut lazimnya dikatakan sebagai aliran pendidikan atau ada pula yang menamakan sebagai mazhab filsafat pendidikan. Contoh daripada aliran-aliran tersebut ialah empiris, nativisme, dan konvergensi. Kesemua aliran tersebut memiliki ciri yang khas baik dari segi tujuan maupun metoda pengajaran dalam pendidikan yang telah dicetuskan oleh para ahli.
Kajian tentang berbagai aliran pendidikan tersebut berguna sebagai bahan untuk menambah pengetahuan dan wawasan para tenaga kependidikan. Hal ini sangat penting agar para tenaga kependidikan dapat memahami dan memberikan konstribusi terhadap dinamika pendidikan dalam sebuah kondisi masyarakat. Disamping itu para tenaga kependidikan juga diharapkan dapat memiliki bekal dalam mewujudkan tujuan pendidikan.



BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Aliran Pendidikan Konvergensi
2.1.1 Tokoh yang Menyampaikan Gagasan Aliran Pendidikan Konvergensi
Aliran ini dipelopori oleh William Stern, seorang ahli ilmu jiwa berkebangsaan jerman yang berpendapat bahwa penmbawaan dan lingkungan keduanya menentukan perkembangan manusia, sehingga aliran ini merupakan kompromomi atau kombinasi dari nativisme dengan empirisme
Konvergensi berasal dari kata Convergative yang berarti penyatuan hasil atau kerja sama untuk mencapai suatu hasil. William Stern mengatakan bahwa kemungkinan-kemungkinan yang dibawa sejak lahir itu merupakan petunjuk-petunjuk nasib manusia yang akan datang dengan ruang permainan. Dalam ruang permainan itulah terletak pendidikan dalam arti yang sangat luas. Tenaga-tenaga dari luar dapat menolong tetapi bukanlah ia yang menyebabkan perkembangan itu, karena ini datangnya dari dalam yang mengandung dasar keaktifan dan tenaga pendorong. Sebagai contoh : anak dalam tahun pertama belajar mengoceh, baru kemudian becakap-cakap, dorongan dan bakat itu telah ada, di meniru suara-suara dari ibunya dan orang disekelilingnya. Ia meniru dan mendebgarkan dari kata-kata yang diucapkan kepadanya, bakat dan dorongan itu tidak akan berkembang jika tidak ada bantuan dari luar yang merangsangnya. Dengan demikian jika tidak ada bantuan suara-suara dari luar atau kata-kata yang di dengarnya tidak mungkin anak tesebut bisa bercakap-cakap.
2.1.2 Karakteristik Aliran Pendidikan Konvergensi
Paham konvergensi ini berpendapat,bahwa didalam perkembangan individu itu baik dasar atau pembawaan maupun lingkungan memainkan peranan penting. Bakat sebagai kemungkinan telah ada pada masing-masing individu,akan tetapi bakat yang sudah tersedia itu perlu menemukan lingkungan yang sesuai supaya dapat berkembang.
Karena itu teori W. Stern disebut teori konvergensi ( konvergen artinya memusat kesatu titik). Jadi menurut teori konvergensi :
1)      Pendidikan mungkin dilaksanakan.
2)      Pendidikan diartikan sebagai pertolongan yang diberikan lingkungan kepada anak didik untuk mengembangkan potensi yang baik dan mencegah berkembangnya potensi yang kurang baik.
3)      Yang membatasi hasil pendidikan adalah pembawaan dan lingkungan.
Aliran konvergensi pada umumnya diterima secara luas sebagai pandangan yang tepat dalam memahami tumbuh kembang manusia. Meskipun demikian terdapat variasi mengenai faktor-faktor mana yang paling penting dalam menentukan tumbuh kembang itu. Seperti telah dikemukakan bahwa variasi-variasi itu tersecrmin antara lain dalam perbedaan pandangan tentang strategi yang tepat untuk memahami perilaku manusia, seperti strategi disposisional/konstitusional, startegi phenomenologis/humanistic, startegi behavior, startegi psikodinamik/psiko analitik, dan sebagainya. Demikian pula halnya dalam belajar mengajar; variasi pendapat itu telah menyebabkan munculnya berbagai teori belajar mengajar dan atau teori/model mengajar. Sebagai contoh dikenal berbagai pendapat tentang model-model mengajar seperti rumpun model behavior ( umpan model belajar tuntas, model belajar control diri sendiri, model belajar simulasi, dan model belajar asertif), model belajar pemmrosesan informasi ( model belajar inkuiri, model persentase kerangka dasar, atau advance organizer, dan model pengembangan berfikir), dan lain-lain. Dari sisi-sisi lain, variasi pendapat itu juga melahirkan berbagai pendapat gagasan tentang belajar mengajar, seperti peran guru sebagai fasilitator atau informatory, teknik penilaian pencapaian siswa dengan tges objektif atau tes esai, perumusan tujuan pengajaran yang sangat behavior, penekanan pada peran teknologi pengajaran.
Demikian pula hal nya dalam belajar mengajar variasi pendapat itu dapat menyebabkan munculnya teori belajar atau teori mengajar. Sebagai contoh, dikenal berbagai pendapat tentang model-model mengajar seperti rumpun model behaviorer(umpama model belajar tuntas) model belajar control diri sendiri, model belajar simulasi, dan model belajar asertif, rumpun model pemprosesan informasi (model belajar inkuiri, model presentase kerangka dasar atau advance organizer, dan model perkembangan berfikir) dari sisi lain, variasi pendapat itu berbagai pendapat atau gagasan tentang belajar mengajar seperti peran guru sebagai fasilitator atau informator, teknik pencapaian penilaian siswa dengan tes objektif atau tes essai, perumusan tujuan yang sangat behavioral, penekanan pada peran teknologi pengajaran dll.
2.2 Pengaruh Aliran Pendidikan Konvergensi Terhadap Pendidikan di Indonesia
2.2.1. Masa Revolusi Kemerdekaan
Faham konvergensi bukanlah hal yang baru dalam sistem pendidikan formal di Indonesia. Pengaruh faham ini sudah terlihat sejak pertama kali dirumuskannya sistem pendidikan nasional di Indonesia oleh Ki Hajar Dewantara. Secara eksplisit Ki Hajar Dewantoro pernah menyatakan dalam tulisannya bahwa segala alat, usaha, dan cara pendidikan harus sesuai dengan kodratnya keadaan. Selain itu Ki Hajar Dewantara juga mengatakan, ”Pendidikan itu hanya suatu “tuntunan“ di dalam hidup tumbuhnya anak-anak kita”. Dari pernyataan-pernyataan tersebut dapat disimpulkan bahwa selain menyadari sangat pentingnya pendidikan bagi proses tumbuhkembangnya karakter dan kemampuan seseorang, beliau juga mengakui adanya peran yang cukup penting dari faktor dasar/pembawaan, yang disebutnya sebagai kekuasaan kodrati.
2.2.2 Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA)
Walaupun belum begitu meluas penerapannya, Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA) sebenarnya sudah mulai diterapkan oleh para pendidikan di Indonesia pada akhir tahun 1970. (Cece Wijaya, et.al.,1992). Secara harfiah, Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA) dapat diartikan sebagai suatu sistem belajar mengajar yang menekankan keaktifan siswa secara fisik, mental, intelektual, dan emosional guna memperoleh hasil belajar yang berupa perpaduan antara matra (domain) kognitif, afektif, dan psikomotorik. Metode ini dapat dikatakan sebagai ‘pendidikan yang berpusat pada anak’, karena dalam proses belajarnya yang berperan sebagai pengolah bahan ajar adalah siswa sendiri, sedangkan guru hanya berperan sebagai pembimbing dan pengarah proses belajar-mengajarnya.
Dalam bukunya yang berjudul “Upaya Pembaharuan Dalam Pendidikan dan Pengajaran” Cece Wijaya et.al. menyatakan bahwa Belajar mengajar dapat dikatakan bermakna dan berkadar CBSA bila terdapat ciri-ciri sebagai berikut :
1.      Adanya keterlibatan siswa dalam menyusun dan membuat perncanaan proses belajar-mengajar.
Adanya keterlibatan intelektual emosional siswa, baik melalui kegiatan mengalami, manganalisis, berbuat, maupun pembentukan sikap.
2.      Adanya keikutsertaan siswa secara kreatif dalam menciptakan situasi yang cocok untuk berlangsungnya proses belajar-mengajar.
3.      Guru bertindak sebagai fasilitator dan koordinator kegiatan belajar siswa Menggunakan multi metode dan multi media.
Dari paparan di atas dapat disimpulkan bahwa dalam sistem (CBSA) pengakuan dan perhatian terhadap potensi dasar/pembawaan anak sangatlah penting. Disamping itu perhatian juga diarahkan pada pengkondisian lingkungan tempat berlangsungnya proses belajar-mengajar dengan sedemikian rupa sehingga proses pembelajaran dan pendidikan secara keseluruhan dapat berlangsung lebih bermakna. Dengan kata lain melalui sistem CBSA belajar itu dipandang sebagai proses interaksi antara individu dengan lingkungannya. Dengan demikian maka penerapan Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA) sebenarnya secara prinsif merupakan implementasi dari faham konvergensi dalam pendidikan.
2.2.3 Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK)
Kurikulum berbasis kompetensi merupakan perangkat rencana dan pengaturan tentang kompetensi dan hasil belajar yang harus dicapai siswa, penilaian kegiatan belajar mengajar, dan pemberdayaan sumber daya pendidikan dalam pengembangan kurikulum sekolah.
Rumusan kompetensi dalam Kurikulum Berbasis Kompetensi merupakan pernyataan apa yang diharapkan dapat diketahui, disikapi, atau dilakukan siswa dalam setiap tingkatan kelas dan sekolah dan sekaligus menggambarkan kemajuan siswa yang dicapai secara bertahap dan berkelanjutan untuk menjadi kompeten.
Kurikulum Berbasis Kompetensi berorientasi pada :
1.      hasil dan dampak yang diharapkan muncul pada diri peserta didik melalui serangkaian pengalaman belajar yang bermakna, dan
2.      keberagaman yang dapat dimanifestasikan sesuai dengan kebutuhannya.
Kurikulum Berbasis Kompetensi memiliki ciri-ciri sebagai berikut :
-          Menekankan pada ketercapaian kompetensi siswa baik secara individual maupun klasikal.
-          Berorientasi pada hasil belajar (learning outcomes) dan keberagaman.
-          Penyampaian dalam pembelajaran menggunakan pendekatan dan metode yang bervariasi.
-          Sumber belajar bukan hanya guru, tetapi juga sumber belajar lainnya yang memenuhi unsur edukatif.
-          Penilaian menekankan pada proses dan hasil belajar dalam upaya penguasaan atau pencapaian suatu kompetensi.
Salah satu prinsip dalam pengembangan Kurikulum Berbasis Kompetensi adalah berpusatnya pendidikan pada anak dengan penilaian yang berkelanjutan dan komperehensif. Ini merupakan upaya memandirikan siswa untuk belajar, bekerjasama, dan menilai diri sendiri agar siswa mampu membangun pemahaman dan pengetahuannya.
Kurikulum Berbasis Kompetensi merupakan pergeseran penekanan dalam kurikulum dari isi (APA yang tertuang) ke kompetensi (BAGAIMANA harus berpikir, belajar, bersikap dan melakukan). Oleh karena itu guru dan siswa diharapkan dapat mengetahui apa yang harus dicapai dan sejauhmana efektivitas belajar telah dicapai. Tetapi pada pelaksanaannya, secara prinsip metode yang diterapkan dalam Kurikulum Berbasis Kompetensi relatif tidak terlalu berbeda dengan metode CBSA, dimana penekanan proses belajarnya tetap berpusat pada siswa. Dengan demikian melalui metode KBK pun proses pendidikan di Indonesia tetap mengacu pada pandangan tentang pentingnya faktor dasar/pembawaan dan peranan lingkungan dalam pembentukkan pribadi sebagai produk pendidikan. Dengan kata lain jiwa dari KBK sesungguhnya inti dari faham konvergensi pula.



BAB III
KESIMPULAN
Aliran Konvergensi Penganut aliran ini berpendapat bahwa dalam proses perkembangan anak, baik faktor pembawaan maupun faktor lingkungan sama-sama mempunyai peranan yang sangat penting.
Aliran konvergenSI pada umumnya diterima secara luas sebagai pandangan yang tepat dalam memahami tumbuh kembang manusia. Meskipun demikian terdapat variasi mengenai factor-faktor mana yang paling penting dalam menentukan tumbuhh kembang itu. Seperti telah dikemukakan bahwa variasi-variasi itu tersecrmin antara lain dalam perbedaan pandangan tentang strategi yang tepat untuk memahami perilaku manusia, seperti strategi disposisional/konstitusional, startegi phenomenologis/humanistic, startegi behavior, startegi psikodinamik/psiko analitik, dan sebagainya. Demikian pula halnya dalam belajar mengajar; variasi pendapat itu telah menyebabkan muncunya berbagai teori belajar mengajar dan atau teori/model mengajar. Sebagai contoh dikenal berbagai pendapat tentang model-model mengajar seperti rumpun model behavior ( umpan model belajar tuntas, model belajar control diri sendiri, model belajar simulasi, dan model belajar asertif), model belajar pemmrosesan informasi ( model belajar inkuiri, model persentase kerangka dasar, atau advance organizer, dan model pengembangan berfikir), dan lain-lain. Dari sisi-sisi lain, variasi pendapat itu juga melahirkan berbagai pendapat gagasan tentang belajar mengajar, seperti peran guru sebagai fasilitator atau tesesai, perumusan tujuan pengajaran yang sangat behavior, penekanan pada peran teknologi pengajaran.


Editing By : ROSYID MELLENK


Masukkan alamat email kamu disini:

Posting Keren Lainnya : Bloggeron

2 comments:

LET'S LEARN LINUX mengatakan...

mksch sob, sngt mmbtu nch....

[ Reply ] | 17 Januari 2013 21.29
BlogS of Hariyanto mengatakan...

contoh makalah yang banyak manfaatnya :)

[ Reply ] | 20 Januari 2013 05.58

Poskan Komentar

silahkan tinggalkan komentar anda disini,
karena itu sangat berharga untuk kemajuan blog ini,
tapi mhon dengan Hormat jangan komentar SPAM.
terimakasih

HTML Counterblog links
Computers directory
Diberdayakan oleh Blogger.